img
img

Bagian Protokol & Komunikasi Publik

Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara

Berita

Gali Pundi PAD, Anggana Kembangkan Potensi Wisata Religi Kutai Lama

date_range 21 November 2017 | Oleh : Medsi02
Gali Pundi PAD, Anggana Kembangkan Potensi Wisata Religi Kutai Lama

FOTO Hj Norhairi Camat Anggana (Foto: Irwan Wadi)

TENGGARONG, 16 Nopember 2017 –  Kecamatan Anggana merupakan salah satu kecamatan yang berada di wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur (Kaltim). Kecamatan tersebut memiliki 23.342 jiwa (2005) penduduk dengan luas wilayah sekitar 1.798,80 km2. Wilayahnya terletak di Muara Sungai Mahakam dan didominasi pulau-pulau kecil yang disebut Delta Mahakam. Salah satu desa di Kecamatan Anggana yang bernama Kutai Lama merupakan pusat pemerintahan pertama Kerajaan Kutai Kartanegara selama 4 abad sejak berdiri pada abad ke-13 hingga abad ke-17 sebelum pindah ke Pemarangan.

Saat ini pusat pemerintah Kecamatan Anggana berada di Desa Sungai Mariam dengan 8 desa yakni,     Desa Anggana, Handil Terusan, Kutai Lama, Muara Pantua, Sepatin, Sidomulyo, Sungai Mariam, dan Desa Tani Baru.Bahkan dari segi kekayaan alam, Anggana merupakan penghasil minyak bumi dan gas alam dengan beroperasinya lapangan migas milik perusahaan Total E&P Indonesie dan VICO Indonesia. Selain itu, masyarakat di daerah ini mengandalkan sektor perikanan dengan menggarap tambak-tambak udang di Delta Mahakam. Namun pembabatan hutan mangrove atau hutan bakau secara besar-besaran di Delta Mahakam untuk lahan tambak tersebut telah mengancam kelestarian lingkungan di wilayah ini.

“Alhamdulillah, potensi kekayaam alam Anggana sangat melimpah. Bahkan Desa Kutai Lama sendiri saat ini memiliki potensi wisata religi yang diharapkan  berkembang dan dapat menambah pendapatan yang bukan hanya masyarakat Desa Kutai Lama namun akan menjadi pendapatan asli daerah Kabupaten Kutai Kartanegara pada Umumnya,” kata Camat Anggana Hj. Norhairi, Kamis (16/11/2017). Menurut Norhairi pengembangan pariwisata religi, kreatif, diharapkan dapat meningkatkan pendapatan asli daerah kawasan sebagai bagian dari strategi kemandirian sektor non migas dengan penguatan sektor pertanian dan pariwisata. “Semoga dari sektor wisata religi ini akan menambah pundi-pundi pendapatan asli daerah, terutama peningkatan ekonomi kerakyatan yang saat ini mulai dirasakan,” ujarnya.

Dijelaskan Norhairi, munculnya konsep wisata religi berdasarkan sejarah dari berbagai sumber yang menyebutkan, bahwa pada abad silam, Kerajaan Kutai Kartanegara yang tumbuh di kisaran abad ke-13 di Kutai Lama, dalam perkembangannya mengalami perpindahan pusat kerajaan beberapa kali, yakni bermula di Kutai Lama, berpindah ke daerah Pemarangan, Jembayan (18 km barat daya Tenggarong) hingga akhirnya pindah lagi ke Tepian Pandan yang kini dikenal sebagai wilayah Tenggarong (ibukota kabupaten Kutai Kartanegara).

“Artinya, Kerajaan Kutai Kartanegara ini, berbeda dengan kerajaan yang telah muncul nyaris 10 abad sebelumnya di Muara Kaman, Kalimantan Timur, yang terkenal dengan temuan prasasti yupanya dan menjadi penanda mula-aksara peradaban di Indonesia. Kerajaan di Muara Kaman tersebut, disebut dengan ragam julukan, seperti Kerajaan Kutai Mulawarman atau Kutai Martapura atau Kutai Muara Kaman,” katanya.

Tidak hanya itu lanjut dia, ragam tinggalan artefak maupun lokasi bersejarah banyak terdapat di Kutai Lama, yang mengalami petaka arkeologi di kisaran tahun 1990an dengan banyaknya kegiatan penggalian liar dan penjarahan benda-benda tinggalan sejarah yang ada. Kini, wilayah Kutai Lama berusaha bangkit dengan sektor pariwisata tematik wisata religi dengan keberadaan makam ulama kerajaan maupun makam raja yang terdapat di kawasan ini.

Adalah Nur Bayah seorang pengusaha muda yang bergerak di bidang pertambangan batu bara memandang bahwa hasil bumi berupa Batu bara tidaklah selamanya dapat di gali dan bertahan dalam sektor penambahan pendapatan daerah karena batu bara merupakan produk yang tidak dapat terbarukan. “Dengan konsep membangun potensi wilayahnya yaitu Desa Kutai lama dan dengan didukung oleh masyarakat Desa Kutai Lama yang menamakan diri Masyarakat Sadar  Wisata serta dukungan dari Pemerintah Kecamatan Anggana maka Desa Kutai Lama ditetapkan sebagai Desa Wisata Religi/Wisata Ziarah,”. Jelasnya. (Rudi Irwansyah/Medsi02)

Terkait

BERITA Lainnya