img
img

Bagian Protokol & Komunikasi Publik

Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara

Berita

Partisipasi Perempuan Dalam Pembangunan

date_range 19 Desember 2014 | Oleh : hmp4
Partisipasi Perempuan Dalam Pembangunan

FOTO Rinda Desianti pengurus GOW Kukar.

TENGGARONG – Partisipasi perempuan dalam pembangunan diantaranya kapasitas seseorang dalam upaya – upaya yang menentukan bagi kualitas hidup yang di jalaninya, peran serta masyarakat dalam proses pelaksanaan, pemanfaatan hasil, perencanaan dan pengambil keputusan.

Pensifatan atau pembagian dua jenis kelamin manusia yang ditentukan secara biologis, melekat pada jenis kelamin yang merupakan kodrat Tuhan. Laki – laki mempunyai penis, jakun, memproduksi sperma, sedangkan perempuan mempunyai vagina, rahim, saluran melahirkan, indung telur serta alat menyusui.

Sifat yang melekat pada laki – laki dan perempuan yang di konstruksikan secara sosial dan kultural pembagian peran dan tanggung jawab laki-laki atau perempuan yang ditetapkan oleh masyarakat maupun budaya. Demikian dikatakan Rinda Desianti pengurus gabungan organisasi wanita GOW Kukar saat menyampaikan materi dalam Seminar penguatan peran aktif partisipasi organisasi perempuan di Kabupaten Kutai Kartanegara dalam rangkaian Hari Ibu ke 86 Tahun 2014 di Aula Bappeda Tenggarong, belum lama ini.

Bicara tentang laki – laki dan perempuan selalu berkaitan dengan biologis, jenis kelamin, konstruksi sosial budaya dan gender. Gender perbedaan peran, fungsi, tanggungjawab, harapan dan karakteristik femininitas dan maskulinitas antara laki – laki dan perempuan hasil konstruksi sosial. Sering terjadi kerancuan gender sama dengan kodrati. Laki – laki mempunyai sifat maskulin, fungsi produksi, lingkup disektor publik dan pencari nafkah utama, sementara perempuan mempunyai sifat feminim, fungsi reproduksi, lingkup disektor domestik serta pencari nafkah tambahan, tambah Rinda.

Perbedaan jenis kelamin dengan gender. Jenis kelamin ( sex ) ciptaan tuhan, bersifat kodrat , tidak dapat berubah, tidak dapat ditukar berlaku sepanjang zaman dan dimana saja. Sedangkan gender buatan manusia, tidak bersifat kodrat, dapat berubah, dapat ditukar, beragam , tergantung waktu dan budaya setempat. Suatu sikap negatif masyarakat terhadap perempuan yang membuat posisi perempuan selalu pada pihak yang dirugikan, bentuknya macam – macam perempuan bersolek dianggap memancing perhatian lawan jenis, sehingga jika terjadi pelecehan seksual maka perempuan yang disalahkan. Bayi perempuan diberi warna pink ( feminim ) dan laki – laki warna biru ( maskulin ) dll, jelas Rinda Desianti.

Berdasarkan Inpres No.9 Tahun 2000 tentang pengarustamaan gender dalam pembangunan nasional, seluruh departemen maupun lembaga pemerintah non departeman di pemerintah pusat, maupun kabupaten / kota harus melakukan pengarustamaan gender, karena merupakan strategi untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender dalam pembangunan, dimana aspek gender terintergrasi dalam perumusan kebijakan program dan kegiatan melalui perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi sehingga capaian keseteraan dan keadilan gender merupakan suatu kondisi dimana porsi dan siklus sosial antara perempuan dan laki – laki setara, serasi, seimbang dan harmonis, tambah Rinda Desianti ( hmp4/Betty ).

BERITA Lainnya