Tingkatkan Kualitas Demi pendidikan
Oleh : 14 Februari 2012 Pendidikan
TENGGARONG- Untuk meningkatkan kualitas pendidikan khususnya bagi anak usia dini dan Kelompok Bermain Islam Terpadu,Taman Kanak-kanak Islam Terpadu Nurul ‘Ilmi mengadakan pelatihan kurikulum bagi para guru beberapa waktu lalu di Gedung TKIT Nurul ‘Ilmi 2 Kelurahan Baru Tenggarong.
Kegiatan ini diikuti oleh seluruh guru KBIT dan TKIT. Selain itu dalam acara tersebut menghadirkan Ketua HIMPAUDI Kukar, Ibu Endah Setiawati, S.Psi., M.Pd. Sebagai pembicara.
‘’Saya sangat mendukung Kegiatan seperti ini, Tak perlu gebyar tapi muatannya sungguh penuh makna’’ujar Ketua Dewan Pembina Jaringan Sekolah Islam Terpadu Kukar Saiful Aduar.
Ia juga mengatakan bahwa sejalan dengan program pemerintah yang makin menggalakan pendidikan anak usia dini maka program dan kurikulum harus terus di tingkatkan dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan masa kini. Pengembangan pendidikan anak usia dini memang sangat penting karena mulai dari usia dinilah perkembangan anak dibentuk.
Menurut Aduar Pendidikan anak usia dini akan memberikan persiapan bagi anak untuk menghadapi masa-masa ke depannya, yang paling dekat adalah untuk menghadapi masa sekolah. Di masa TK pun sudah mulai diajarkan kemampuan bersosialisasi dan problem solving. Karena kemampuan-kemampuan itu sudah bisa dibentuk sejak usia dini
Di lembaga pendidikan anak usia dini, anak-anak sudah diajarkan dasar-dasar cara belajar. Tentunya di usia dini, anak-anak akan mulai belajar dan diajarkan dengan cara yang mereka ketahui yakni lewat bermain. Tetapi bukan sekadar bermain saja tetapi bermain yang diarahkan. Lewat bermain yang diarahkan anak-anak akan bisa belajar banyak seperti cara bersosialisasi, problem solving, negosiasi, manajemen waktu, resolusi konflik, berada dalam grup besar/kecil, kewajiban sosial, serta 1-3 bahasa.
Belajar sambil bermain, otak anak berada dalam keadaan yang tenang dan Saat tenang itulah pendidikan pun bisa masuk dan tertanam dan anak tidak merasa dipaksa untuk belajar. Kelas haruslah berisi kesenangan, antusiasme, dan rasa penasaran. Bukan menjadi ajang tarik-ulur kekuatan antara murid-guru dan terbangun sikap anak yang semangat untuk belajar. "Tentun cara bermain pun tidak bisa asal, harus yang diarahkan dan ini butuh tenaga yang memiliki kemampuan dan cara mengajarkan yang tepat”imbuhnya. (hmp09)


