Desa spontan adakan Ngugu Tahunan
Oleh : hermawan 21 November 2011 Sosial Budaya
TENGGARONG - Kamis (17/11)
Lurah loa ipuh Suprianto bersama kepal-kepala adat Dayak
Tunjung Benuaq berkumpul di Lamin Baru Desa Spontan Loa Ipuh Di
kecamatan Tenggarong guna menyaksikan Acara adat Ngugu Tahunan
yang merupakan tradisi khas adat Dayak Tunjung Benuaq dan Bentian di
Kalimantan Timur khususnya Kutai kartanegara yang merupakan salah satu
warisan budaya dan tentunya menjadi salah satu daya tarik wisata budaya
di daerah Kukar.
Dimulainya
acara ditandai dengan alunan music khas masyarakat dayak dilanjutkan
dengan prosesi penyembuhan yang dilakukan oleh pawing untuk mengusir
penyakit dan tolak bala juga untuk menyuburkan lahan pertanian. Ditengah-tengah lapang juga terdapat sebuah patung yang terbuat dari bahan kayu ulin dipahat berbentuk manusia serta
dihiasi dengan
ukir-ukiran lain yang sesuai
dengan selera dan keahlian
sipemahatnya. Patung ini lazimnya dikatakan oleh mereka sebagai patung orang mati atau patung kuangkaikarena dipergunakan dalam upacara adat Kuangkai (yaitu upacara pemindahan tulang dari tempat selong atau Lungun ketempat lain Templak, Klerengatau Taloh). Pada upacara adat tadi patung blontang hanya berfungsi sebagai tempat mengikat hewan kerbau yang akan dikorbankan.
Kerbau
tadi
dibunuh sedikit
demi sedikit dengan mempergunakan senjata
tombak yang
kemudian barulah ditamatkan riwayatnya dengan cara disembelih. Kemudian
darah binatang ini diambil dan dipelaskan pada tempat atau wadah
menyimpan tulang tadi yang memang sudah tersedia.
Bagi
para pemuda yang berani menombak kerbau tidak boleh menombak bagian
lingkaran putih yang sudah ditandi oleh panitia. Panitia juga menyiapkan
pengganti bila terjadi hal-hal yang tak d inginkan dengan sebuah piring
dan uang sebesar Rp.
50.000
Maksud
penyembeihan kerbau ini, menurut kepercayaan suku tersebut, diantaranya
adalah sebagai penebus dosa almarhum yang diperbuatnya selama masih
hidup, juga kelak akan dipergunakan oleh mereka (simati) sebagai teman
tunggangan sewaktu menuju ketempat peristirahatan terkahir yang disebutGunung Lumut , Selain itu mengusir penyakit dan tolak bala juga untuk menyuburkan
lahan pertanian.
Suprianto
yang mewakili Bupati kukar dalam sambutanya mengatakan Upacara
adat ini merupakan suatu tradisi yang turun menurun dan dibudayakan
dalam kehidupan adat dayak Tunjung Benuaq, dan Bentian, sehingga patut
dilestarikan dan dikembangkan agar generasi selanjutnya tetap memiliki
pemahaman dan kemampuan untuk melakukan dan melestarikan kegiatan budaya
ini.
Masyarakat
dapat mengambil sisi positif dari pelaksanaan upacara adat ini, sebagai
mana tradisi di dalam adat dayak Tunjung Benuaq yang selalu didasarkan
pada budaya Sempekat (Gotong-Royong). “Budaya Sempekat ini sangat perlu
pertahankan dan dilestarikan, sebagaimana sebuah ungkapan dalam ilmu
sosiologi, bahwa tidak ada masyarakat tanpa kebudayaan. Demikian juga
sebaliknya, tidak ada kebudayaan tanpa masyarakat’ ujarnya.
Di
dalam hal ini tumbuhnya nilai-nilai kegotongroyongan atau Sempekat
diharapkan dapat menjadi perekat masyarakat untuk menjalin kebersamaan
dan kerukunan antara sesama. Tidak dapat dipungkiri bahwa aktifitas
budaya dapat memberikan manfaat yang menyehatkan, menyelamatkan, serta
mensejahterakan bagi kehidupan masyarakat. Pemerintah daerah sendiri akan sangat mendukung setiap upaya masyarakat yang benar-benar serius untuk mengembangkan pertanian di dalam
tradisi kebudayaan yang terus terpelihara. Oleh
sebab itu mari bekerja
sama untuk memajukan pertanian dan tradisi yang ada ini sehingga
menjadi suatu pengembangam yang signifikan terhadap obyek wisata yang
ada di Kabupaten Kutai Kartanegara, selain kesejahteraan yang diharapkan
dari upacara adat ini.
Ia
berharap budaya-budaya yang memiliki nilai luhur yang tinggi dapat
laksanakan dan terus dilestarikan oleh
generasi-generasi berikutnya.
pelestarian
adat istiadat dan budaya yang memiliki nilai-nilai positif ini sangat
sesuai dengan program pemerintah untuk menggalakkan pariwisata daerah
yang selanjutnya akan berdampak pada peningkatan perekonomian
masyarakat. (hmp09)


