img
FLASHNEWS:

Air Mata Iringi Pelepasan Siwa SDN 007 Tenggarong Seberang


Untuk mendapatkan berbagai aneka souvenir khas Kukar di kota Raja Tenggarong bisa mendatangi ke Museum Negeri Mulawarman Tenggarong atau tepatnya berada di halaman belakang museum ini. Di tempat ini oleh pengelola museum disebut “one stop destination” yang artinya setelah melihat lihat koleksi museum pengunjung bisa memilih souvenir yang diinginkan hingga mencicipi kuliner khas daerah ini. Karena di tempat ini pula ada sekitar belasan toko maupun emperan kaki lima yang menjajakan souvenir maupun aneka jenis makanan. Souvenirnya terdiri dari pakaian dan tekstil serta penutup kepala bercorak khas Kutai dan Dayak, aneka Mandau dan asesorisnya. Kemudian beberapa miniatur mulai dari patung lembuswana dan Belontang hingga rumah adat dayak, Lamin. Kemudian ada juga berbagai pernak pernik perhiasan wanita dan pria mulai cincin, kalung, gelang bertahtakan batu mulia hingga intan berlian serta perhiasan dan asesoris berbahan manik-manik. Sebagai pusat bursa souvenir khas Kutai dan Dayak di kota Tenggarong ini barang yang ditawarkan cukup bervariasi dengan harga yang pantas pula. Hanya saja di dalam kawasan yang merupakan aset milik Pemerintah Provinsi Kaltim ini ada dua pengelola toko souvenir yang satu sama lain merasa sah memiliki kawasan ini. Yaitu di satu pihak dilola manajemen Museum Mulawarman sebagai pemilik resmi kawasan museum dan di pihak lain di kuasai sejumlah oknum kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura yang merasa bahwa kawasan museum masih bagian dari warisan Kesultanan Kutai. Menurut sejumlah pemilik toko souvenir dan toko makanan dan minuman yang temui di tempat ini Minggu (29/5) kemarin mengatakan dualisme kepemilikan halaman belakang Museum membuat kesenjangan dalam melakukan bisnis. Kesenjangan itu dalam bentuk fasilitas hingga harga sewa toko dan kios. Menurut salah seorang pemilik toko di Mini Mol Museum yang dikelola pihak manajemen Museum Mulawarman Sulastri bahwa selama ini di tokonya tidak di aliri listrik PLN, kalaupun ada itu adalah genset dari kawan-kawan yang ada di mini mol ini. “Namun selama Mei ini genset yang ada rusak sehingga kami harus melayani pembeli dengan bantuan penerangan senter,” ujarnya sambil melayani pembelinya memeriksa batu cincin dengan penerangan senter. Diapun tidak bisa membayangkan jika saat Penas nanti listrik ini belum juga tersambung. “Listiri ini sudah kami antisipasi namun tidak ada respon dari Museum apalagi PLN, “ujarnya. Ditambahkannya ketiadaan listrik selain ruang mini mol terasa pengap juga jam tutup toko lebih cepat karena sangat gelap terlebih saat mendung. Beda dengan toko dan warung yang dikelola pihak oknum kerabat kesultanan maka listrik PLN tersambung selama 24 jam. “Listrik di toko kami tidak masalah, nyala siang malam,” ujar penjaga toko Melyka Putri yang menjual aneka Souvenir Kalimantan milik A Delly. Sulastri yang didamping rekannya Joni dan sejumlah pemilik toko di mini mol ini berharap agar Pemerintah Daerah segera turun tangan mengatasi listrik. “Jika Juni nanti belum juga diatasi bisa saja oleh peserta Penas kita disebut Provinsi dan Kabupaten senter,” demikian ujarnya.(hmp6)

 

VideoIndex
  •  
Pengumuman

No. Telepon Penting
banner banner banner