img
img
img
FLASHNEWS:

Karya Budaya Kutai

Beberapa Pengalaman Di Majapahit

Alkisah pada waktu Maharaja Sultan, Maharaja Sakti, dan Maharaja Indra Mulia sedang melayang – layang menuju Majapahit, Raja Majapahit pada saat itu sedang dikelilingi oleh Patih Gajah Mada dan semua menteri serta punggawa – punggawanya. Sedangkan di alun – alun ribuan penduduk sedang menanti sabda Raja untuk memerangi Siung Menoro, seorang raksasa yang hendak membunuh Raja Majapahit.
Maharaja Berma Wijaya pada waktu itu kelihatan murung sedangkan patih Gajah Mada sibuk mengatur siasat dengan para punggawa untuk membunuh Siung Menoro, akan tetapi kemudian semakin lama semakin jelas.
 
Mahara Berma Wijaya segera memanggil patih Gajah Mada menghadap dan menanyakan kepadanya, teja apakah yang terlihat membentang dari langit turun kepinggir negeri. Para menteri dan punggawapun semuanya takjub melihat teja itu. dan masing – masing bertanya – tanya di dalam hati tanda apakah itu gerangan. Apakah Dewa sedang mengutus makhluk untuk melindungi Maharaja Berma Wijaya dari serangan siung Menoro, ataukah  teja itu merupakan senjata ampuh dari raksasa itu yang akan menghancurkan kerajaan Majapahit beserta raja dan rakyatnya.
 
Teja yang dilihat itu tidaklah lain daripada pantulan cahaya ketiga turunan Dewata yakni Maharaja Sultan, Maharaja Sakti dari Kutai Kertanegara dan Maharaja Indra Mulia dari Martadipura. Ketiga turuna Dewata ini setelah menginjakkan kaki ke bumi Majapahit bergegas menuju alun – alun dimana mereka akhirnya tenggelam dalam lautan manusia yang sedang berada di tempat itu.
 
Sedang penduduk menanti sabda raja, tiba – tiba dengan tidak disangka – sangka turunlah hujan membasahi semua orang yang berada di alun – alun. Maharaja Sakti segera mencabut keris yang dibawanya bernama Keris Burit Kang, dijunjung diatas kepalanya sebagai payung sehingga dia tidak basah. Demikian juga Maharaja Indra Mulia segera mencabut keris yang tersisip di pinggangnya dikelilingkan tiga kali ke atas kepalanya sehingga diapun tidak basah kena hujan. Karena Maharaja Sultan tidak membawa keris pusaka maka diapun basah terkena hujan. Akan tetapi untuk memperlihatkan kelebihannya pada penduduk Majapahit yang sedang basah kuyup itu, diapun menghadapakan mata hatinya kepada tiang Antaboga yang ada di dalam bumi dan tiba – tiba tanah dimana dia berdiri menonjol ke atas sama tingginya dengan setinggi Binatorono dimana Maharaja Wijaya sedang duduk bertakhta dikelilingi para menteri dan para punggawa. Seorang hamba rakyat yang melihat peristiwa ganjil ini segera menuju sitinggi Bantoro dan berdatang sembah kepada patih Gajah Mada, seraya memberitahukan apa yang dilihatnya dengan  mata kepalanya sendiri. Sang patihpun terkejut dan segera pula berdatang  sembah kepada Maharaja Berma Wijaya untuk memeberitahukan apa yang telah dilihat oleh hamba rakyat tadi. sang Rajapun segera mengutus seorang Santana menemui tiga orang pendatang baru yang mempunyai kesaktian itu untuk menanyakan siapakah mereka gerangan. Santana tersebutpun dalam hujan berjalan ke lapangan dan langsung menuju  ketiga Turunan dewata yang datang dari Kutai Kertanegara dan martadipura itu dengan petunjuk jalan hamba rakyat yang melaporkan kejadian ajaib tadi. Santanapun bertanya kepada Maharaja Sakti : ” Darimanakah andika ini, apakah maksud datang ke majapahit dan apakah nama negeri andika ?”
Maka disahut oleh Maharaja Sakti :” Adapun kakanda ini datang dari Kutai Kertanegara bersama dengan adik kakanda ini, Maharaja sultan, sedangkan kawan seperjalanan kakanda ini ialah Maharaja Indra Mulia dari Martadipura, Maksud kami datang ke Majapahit ini dan tiba dengan selamat sesaat yang baru lalu dialun – alun ini adalah untuk berjumpa dengan raja Majapahit.
 
Santanapun bergegas kembali menuju sitinggi binatoro untuk segera melaporkan langsung kepada sang raja Berma Wijaya apa yang telah didengarnya dari ketiga orang asing itu.
 
Berma Wijaya mendengar laporan segera mengalihkan mukanya kepada patih Gajah Mada sambil berkata :” Inilah rupanya teja yang kita lihat tadi, yakni bayangan daripada 3 orang manusia turunan Dewata raya”. Kemudian Perintah sang raja kepada Santana :” Pergilah kembali dan bawa mereka masuk sitinggi ini !”
Santana pun pergi menemui tiga orang turunan Dewata itu dan memeberitahukan bahwa mereka diterima berdatang sembah kepada raja Majapahit Berma Wijaya. Ketiganya pun bersiap untuk berangkat menuju sitinggi Binatoro, akan tetapi tiba – tiba Maharaja Sakti berkata kepada Maha raja Indra Mulia :” Tidakkah pantas kalau kita berjalan ditegah – tengah ribuan penduduk di alun – alun ini dengan keris terbuka untuk berdatang sembah kepada raja Majapahit.”
 
Sahut  Maharaja Indra Mulia :” kalau kita masukkan kembali keris ke dalam tempatnya, maka kita akan basah oleh Hujan”.
 
Santana mendengar percakapan ini segera kembali menghadap sang raja tentang apa yang dipersoalkan oleh Maharaja Sakti dengan Maharaja Indra Mulia. sang Raja Berma Wijaya memerintahkan kepada seorang punggawa untuk mengambil 3 buah payung agung agar dapat dipakai oleh ketiga orang turunan dewata itu.
Maharaj Sulatan, Maharaja Sakti dan Maharaja Indra Mulia dengan dilindungi oleh payung agung dari hujan dibawa oleh Santana menghadap raja Majapahit. Setelah mereka sampai di sitinggi binatoro, langsung menuju tahta dimana sang raja Majapahit sedang dihadap oleh patih. para Menteri dan punggawa. Raja Berma Wijaya bangkit dari tahta menyongsong kedatangan Maharaja Sultan mengambil tangan kananya dan membawa ke paseban agung. Sedangkan patih Gajah Mada mengambil tangan kanan Maharaja Indra Mulia dan Maharja Sakti untuk dibawa pula ke paseban agung.
 
Setelah sampai di paseban agung dengan diiringi oleh para menteri dan para punggawa, maka Berma wijaya bertitah kepada seorang punggawa untuk membawa Maharaja Sultan keluar pagar paseban dimana terdapat sebuah ruangan.    Ditempat ini Maharaja diberi seperangkat pakaian yang melekat basah kuyup dibadannya karena kehujanan pada waktu berada di alun – alun. Setelah Maharaja Sultan mengganti pakaian, dia dibawa kembali memasuki paseban agung dan dipersilahkan duduk disamping Berma Wijaya. Seorang pangreh praja maju ke muka dengan membawa 3 buah cerana. Peminangan suasa diberikan kepada Maharaja Indra Mulia, sedangkan peminangan pauh jenggi disorongkan kepada Maharaja Sultan. Merekapun makan sirih masing – masing dari tempat yang disediakan itu, demikian juga Berma Wijaya makan sirih dari cerana yang sudah tersedia dihadapannya.
 
Ruangan paseban agung untuk beberapa lama sunyi, karena sang raja dan 3 orang tamu dari jauhnya itu sedang asyik mengunyah sirih sambil pikiran masing – masing menerawang jauh. Demikian juga patih Gajah Mada, para menteri dan para punggawa semuanya berdiam  diri dan masing – masing mereka – reka dalam hati yakni bagaimana menghadapi serangan raksasa yang bernama siung menoro yang hendak membunuh rajanya.
 
Tiba – tiba suara dari Maharaja Berma wijaya memecahkan kesunyian di paseban agung :” Teja silak sana tejane wong anyar katon laksane wong bagus tigas kewarian wiking punding tinongko ngadap punsi sinajua yayi kelawan sana mati peranga wangi sopo sinten kang sinambat yayi.
 
Ketiga tamu dari seberang lautan ini mendengar perkataan  dari raja Majapahit ini menatap sebentar ke mata sang Raja,akan tetapi kemudian bertunduk kembali sambil memikirkan apa sebenarnya arti ucapan itu. Sang raja Majapahit mengulangi lagi apa yang dikatakannya sampai dua kali, dan pada waktu melihat ketiga tamu agung itu mengeleng – gelengkan keapalanya, maklumlah sang raja bahwa perkatannya dalam bahasa jawa itu tidak dimengerti oleh mereka. Maharaja Berma wijayapun member isyarat kepada patih Gajah Mada untu mengulangi ucapannya dalam bahsa Melayu. Maka maklumlah ketiganya apa yang dimaksud oleh Raja Majapahit dan tersembullah senyum diantara bibir mereka Maharaja Berma Wijayapun turut tersenyum memperlihatkan keramah – tamahan sikapnya.
 
Maharaja sultan pun berkatalah : “Adapun negeri adinda bernama Kutai Kertanegara, adinda datang bersama kanda Maharaja sakti ke Majapahit untuk belajar adat yang akan dipakai di negeri kami kelak “.
Kemudian giliran dari Maharaja Indra Mulia memeberitahukan tentang kedatangnnya di Majapahit ini :” Adinda datang dari negeri yang terletak di sebelah ulu dari Kutai Kertanegara, yang bernama Martadipura. Negeri kami sudah ratusan tahun berdiri, namun kami datang untuk belajar adat yang berlaku di kalangan raja – raja Majapahit sebagai melengkapi adat yang sudah berlaku di negeri kami”.
 
Mendengar ucapan Maharaja Sultan dan Maharaja Indra Mulia itu maka wajah para menteri dan para punggawapun kelihatan cerah, karena kedatangan tiga tamu dari jauh tidak untuk menimbulkan kesulitan bagi kerajaan Majapahit.
 
Maharaja Berma Wijaya dengan bahasa jawa mengadakan percakapan singkat dengan patih Gajah mada yang didengarkan oleh para menteri dan punggawa dengan penuh hidmat dan didengarkan oleh ketiga tamu dengan penuh pertanyaan, karena mereka tidak mengerti apa yang diperbincangkan oleh sang raja dengan patihnya.
 
Kemudian Patih Gajah Mada menghadapkan wajahnya kepada para tamu dan berkatalah :” Maharaja Berma Wijaya mengabulkan hajat dinda berdua untuk belajar adat di negeri kami ini. Tetapi kami sedang dalam kesulitan yaitu, negeri kami sedang diserang oleh seorang buto bernama Siung Menoro. Jikalau siung Menoro itu sudah terkalahkan, maka barulah pelajaran mengenai adat jawa dapat dimulai.
 
Selanjutnya Patih Gajah mada menceritakan siapa sebenarnya Siung Menoro itu. Maharaj Berma Wijaya mempunyai seorang nujum yang sangat pandai.  Pada suatu ketika  Maharaja ingin menguji kepandaian ahli nujum itu. Seorang dayang disuruh oleh Maharaja untuk mengangkat diperutnya kemudian dayang tersebut memakai kainnya kembali hingga seakan – akan dia sedang keadaan hamil tua. si ahli nujum dipanggil kepaseban agung dimana hadir para menteri dan para punggawa. Disamping itu semua dayang – dayang juga hadir, diantaranya kelihatan dayang yang nampaknya sedang hamil tua tersebut.
 
Maka berkatalah Maharaja Berma Wijaya :” Hai ahli nujumku, aku ingin mengetahui jenis anak yang akan lahir dari kandungan dayangku ini, apakah perempuan ataukah lelaki”.
 
Lama ahli nujum itu berpikir dan kelihatan sedang bersamadi. Maharaja dan semua yang hadir di paseban tersenyum melihat ahli nujum itu bersemadi.Akan tetapi dayang yang mengikat wajan diperutnya itu kelihatan gelisah,karena merasakan sesuatu yang lain yang ada diperutnya sekarang.
“bagaimana ahli nujumku”, kata Maharaja kemudian,” Apakah dia perempuan ataukah lelaki”.
Ahli nujum mengangkat kepalanya dan menjawab dengan pasti : “Daulat tuanku, anak yang diakandung oleh dayang itu adalah lelaki”.
 
Mendengar jawaban ahli nujum Maharajapun murka dan memerintahkan segera agar dayang tersebut ditelanjangi untuk membuktikan bahwa apa yang dilihat itu hanya sesuatu lelucon saja untuk menguji kepintaran ahli nujum. Seorang punggawapun mendekati dayang itu kemudian membuka kain yang dipakainya dibawah sorak sorai dari mereka yang hadir di paseban agung. Akan tetapi tatkala stagen habis terbuka dari kain penutup tubuh dayang itu meluncur turun ke lantai, maka tiba – tiba ketawa riang gembira terhenti dan terdengarlah bermacam – macam pekikan tanda terkejut. Wajan yang diikat di perut dayang itu sudah tidak Nampak lagi, yang terlihat hanya perut buncit sang dayang yang benar – benar mengandung. Sang dayang sedang hamil tua ! Maharaja Berma Wijaya mukanya pucat pasi, patih Gajah Mada tertegun melihat keajaiban ini, para menteri dan punggawapun ternganga dan akhirnya hanya bisa tunduk tengadah saja. karena tidak tahu apa yang harus diucapkan.
 
Sesudah Maharaja Berma Wijaya sadar tentang kenyataan yang tidak dapat dibantah lagi akan keberatan daripada ucapan ahli nujum itu, maka teringatlah ia akan kata ahli nujum itu beberapa bulan yang lampau, bahwa sorang anak dari dayang akan merebut kekuasaanya di mayapada ini diluar daripada hukum alam akan membinasakan kerajaan Tuanku. Terngiang  kata – kata ini kembali ditelinganya. Bukankah jabang bayi sedang dalam kandungan dayang yang tadinya karena hanya untuk lelucon saja? Apakah jabang bayi ini kelak yang akan membinasakan kerajaan Majaphit? Dia termenung.
 
Tiba – tiba bergemalah suara Maharaja Berma Wijaya di dalam paseban agung memanggil salah seorang menterinya. Kepada menteri ini diperintahkannya agar membawa dayang  yang malang itu ke dalam hutan dan segera menghabisi nyawanya. Semua yang mendengar tersentak mendengar titah Maharaja Berma Wijaya. Apa salahnya sang dayang itu? patih Gajah Mada hendak datang bersembah, akan tetapi oleh Maharaja Berma wijaya tidak dihiraukan. Dayang itu menangis meraung – raung mengingat nasibnya yang malang. Maharaja itu segera bangkit dan meninggalkan paseban agung menuju keratin, Ini berarti titah sang raja harus dilaksanakan.
 
Ributlah keadaan di paseban agung, Para dayang – dayang lainnya turut menangis sebagai tada dukacita atas nasib yang sekarang dialami oleh rekannya itu. Sementara itu dipersiapkan untuk membawa sang dayang ke hutan mulai dilaksanakan. Beberapa ekor kuda untuk pengawal menteri sudah siap, demikian juga kereta yang akan membawa sang dayang itu ke hutan.
 
Setelah segala – galanya siap, berangkatlah menteri membawa dayang itu ke hutan dengan kereta yang ditarik oelh kedua ekor kuda. didalam kereta sang dayang menangis terus – menerus dan memohon belas kasihan menteri agar dia jangan dibunuh. Biarkanlah hidup terus dalam hutan, karena dia tidak sama sekali berbuat kesalahan. Sang dayang minta keadilan kepada sang menteri. Menteri berpikir keras, apakah dia mengikuti bisikan nuaraninya yang membenarkan dayang itu atau kah dia menurut hatinya untuk tetap membunuh sang dayang untuk menjamin kelangsungan hidupnya yang mempunyai keluaraga banyak.
Kereta berjalan terus menuju hutan terguncang – guncang dijalan yang tidak rata dan berlobang – lobang sebagaimana juga hati sang menteri yang bergoncang dihadapkan dua pilihan, antara keadilan dan kezaliman. Pada waktu senja itu sampailah rombongan ini ke pinggir hutan dan merekapun mendirikan perkemahan di tempat yang datar dan lapang. Sang dayang diberikan kemah sendiri dengan dijaga ketat oleh pengawal.
 
Sang menteri tidak dapat tidur dan tidak dapat memejamkan matanya. Dia gelisah terus dipembaringan, bolak balik ke kira kekanan. akhirnya dia bangkit, mengintip dari celah- celah pintu tendanya mencari – cari dengan matanyaa pengawal – pengawalnya. dilihatnya pengawal – pengawal dalam keadaan siap siaga menjaga sang dayang didalam kemahnya, khawatir kalau sang dayang melarikan diri dalam gelap gulita. Kesiap siagaan para pengawal menjaga kemah sang dayang itu, digunakan oleh menteri sebagai kesempatan yang baik untuk secara diam – diam meninggalkan tendanya dan dengan sembunyi – sembunyi sendirian memasuki hutan dengan membawa tali pengikat. Dengan hati – hati dia memasuki hutan di dalam keadaan gelap gulita sampai dia tertumbuk pada pohon. Diapun duduk di bawah pohon itu dan menatap terus untuk membiasakan matanya dalam keadaan gelap gulita. sehingga dia dapat membedakan segala isi hutan dan di sekitarnya. setelah lama dia duduk dengan berdiam diri dan menahan nafas, maka terlihatlah dua mata bola yang memandangnya dari kejauhan. Inilah rupanya yang dinantinya. Dia bersamadi, dia menhadapkan mata hatinya kepada dewata. Tiba – tiba kedua bola mata itu mendekat kepadanya dan bagaikan kilat menyambar ditangkapnyalah makhluk yang mendekat kepadanya itu, yang adalah seekor kijang. Segera diiktanya kijang itu dan ditambatkannya di batang pohon dimana dia duduk tadi. dengan tidak menimbulkan kegaduhan dia berjalan kembali ke kemahnya sedangkan kijang itu ditinggalkannya tertambat di batang pohon itu.
 
Pada waktu fajar menyingsing, maka berkatalah menteri kepada para pengawalnya, agar tetap siap di tempat dan hanya dia sendiri saja yang membawa sang dayang ke hutan untuk dibunuhnya.
 
Sang dayang menangis melolong – lolong bagaikan anjing ditengah malam pada waktu dibawa menteri ke hutan. Sang dayang akhirnya kehabisan suara dan hanya isaknya saja lagi yang ketinggalan bagaikan irama sumbang  yang membumbui  perjalanan mereka di dalam hutan itu. Akhirnya sampailah mereka pada sebatang pohon dimana terikat pada batang pohon itu. Setelah beristirahat sebentar, menteripun menguraikan maksudnya, bahwa dia tidak akan membunuh sang dayang. Dia akan membunuh kijang ini dimana darahnya akan disapukannnya pada ujung kerisnya untuk membuktikan secara palsu kepada raja bahwa dia sudah memenuhi titahnya. sang dayang berlinang air matanya, segera mencium tangan dan kaki menteri yang baik hati ini.
 
Bilamana matahari sudah condong ke arah barat, maka tampakklah oleh para pengawal menteri keluar dari dalam hutan dengan lesu dan mata pucat. Segera para pengawal memapah menteri dan membawa ke kemah untuk diistirahatkan. Menteri mencabut kerisnya dan memperilihatkan bekas darah yang mongering melekat pada keris itu. Para pengawal maklum dan telah menyangka bahwa menteri sudah melaksanakan titah raja.
 
Menteri kemudian merebahkan dirinya dipembaringan minta dipijat kepda seorang pengawal yang memang ahlinya. Sesudah itu kepada menteri diberikan minuman jamu.  Setelah menteri kelihatan segar bugar, maka merekapun bersiap – siap untuk kembali menuju kota kerajaan menghaturkan sembah kepada Maharaja Berma Wijaya bahwa titahnya untuk menghabisi nyawa sang dayang sudah dilaksanakan.
 
Sang dayang yang ditinggalkan dalam hutan denga terlunta – lunta akhirnya bertemu dengan seorang dusun yang sedang mencari kayu api. Dayang menceritakan tentang nasibnya sehingga orang dusun itu tergugah hatinya untuk menolong sang dayang. Dibawanyalah perempuan yang malang ini kerumahnya, diperkenalkanlah kepada anak isterinya dan diberikannya tempat untuk bersama – sama tinggal. Beberapa bulan kemudian sudah cukup bilangnnya sang dayangpun melahirkan seorang anak lelaki yang diberi nama siung menoro.Pertumbuhan anak itu tidak sebagaimana bayi – bayi lain. Cepat sekali tubuhnya menjadi besar, umur sebulan sudah bisa jalan, semakin usianya meningkat semakin menjadi hitam kulitnya, bagaikan warna wajan yang sering dipakai di dapur. dalam umur setahun Siung Menoro  sudah dewasa dan badannya tumbuh sebagai raksasa. Tapi dia berhati baik, terhadap ibunya dan keluarga orang dusun yang memberikan pondokan terhadap ibunya itu dan bersikap ramah dan hormat.
 
Pada suatu ketika dia bertanya kepada ibunya, tentang asal – usulnya,mengapa dia mempunyai kelainan dibandingkan dengan anak-anak lainnya. ibunya mulanya malu untuk memberitahukan hal kejadian dari anaknya diceriterakannyyalah dengan terus terang kepada Siung Menoro.
 
Siung menoro mendengar cerita itu menjadi berang dan bersumpah pada ibunya untuk membunuh Maharaja Berma Wijaya dengan tangannya sendiri. Niat dari raksasa ini hendak membunuh raja Majapahit itu disampaikan oleh seorang penduduk dusun kepada patih Gajah Mada. Maka ributlah para menteri dan para punggawa. Diselidikilah siapa sebenarnya siung menoro itu, yang akhirnya terbongkar juga rahasia menteri yang ditugaskan untuk membunuh sang dayang yang hamil karena wajan yang diikatkan diperutnya itu. Tidak ayal lagi menteri tersebut dihukum gantung dialun – alun disaksikan oleh orang banyak. Berita ini menjadikan Siung Menoro bertambah marah, karena orang yang telah menolongnya dihukum gantung dengan semena – mena.
 
Dan kini Siung Menoro sudah siap tempur untuuk membunuh raja kami”. demikian Patih Gajah Mada mengakhiri ceriteranya kepa Maharaja sakti, Maharaja Sultan dan Maharaja Indra mulia. “ Bilamana Siung Menoro sudah dikalahkan, maka barulah adinda dapat diberikan pelajaran adat jawa dan tatakrama dalam kerajaan majapahit”.
 
Ketiga Raja ini terdiam mendengar kisah Siung Menoro itu. Mereka tenggelam dalam pikirannya masing – masing, demikian juga Mahara Berma Wijaya dan Patih Gajah mada serta para menteri dan punggawa yang hadir. Sejenak kemudian Maharaja Sakti mengangkat kepalanya, menyapa Maharaja Sultan di dalam bahasa Kutai yang tidak dimengerti oleh Raja Majapahit dan hadirin lainnya yang berada di paseban agung. Mereka biarkan keduanya yang  sedang asyik bercakap – cakap sampai akhirnya Maharaja Sakti mengatur sembah kepada Maharaja Berma Wijaya sambil berkata :”Kami yang datang dari Kutai Kertanegara ini bersedia membantu Maharaja untuk memerangi Siung menoro”. Mendengar ucapan ini gemparlah di Paseban Agung. Patih Gajah Mada menganggap tidaklah pantas kalau tamu datang untuk melawan musuh, sedangkan pertempuran belum sama sekali dimulai. Namun Maharaja Sakti dan  Maharaja Sultan tetap memohon agar kepada mereka  diberikan kesempatan untuk pertama kali megnghadapi Siung Menoroitu, karena katanya ingin mencoba keampuhan keris Buritkang diluar kawasan Kutai Kertanegara. karena permintaan yang sangat dan memaksa ini, maka Maharaja Berma Wijaya dengan setengah hati mengabulkan keinginan dari Maharaja Sakti dengan adiknya. Adapun Maharaja Indra Mulia dari Martadipura berdiam diri saja. tidak turut mengemukakan usul, pendapat atau saran. Baginya yang datang ke Majapahit bukan untuk mencari sengketa, akan tetapi ingin belajar tentang tata krama Jawa yang dipakai di dalam lingkungan keraton dan kaum bangsawan.
 
 
Syahdan, pada suatu hari yang tidak cerah, berangkatlah Maharaja Sati dan Maharaja Sultan ke batas kota dipinggir hutan untuk menemui Siung Menoro dengan diantar oleh beberapa punggawa sebagai penunjuk jalan. perjalanan yang panjang dan melelahkan bagi para punggawa itu tidaklah terasa bagi kedua Maharaja itu karena mereka terus bersemadi didalam kereta yang membawanya. Hampir mendekati tempat Siung Menoro terdengar sorak sorai anak buah dari buto itu. Kedua Maharaja tersadar dari semadinya, lalu mempesiapkan diriya untuk bertempur dengan Siung Menoro. dari kejauhan terdengar suara Siung kalian yang dtang berkunjung kesini”. Pertanyaan ini dileparkannya, karena melihat panji – panji yang berkibar ditiang kereta asing baginya, bukan panji – panji dari kerajaan Majapahit.
 
Maharaja Sakti menyuruh memberhentikan keretanya dan kemudian bersama – sama Maharaja Sultan keluar menampakkan dirinya. Siapakah kalian? terdengar lagi dengan jelas pertanyaan ini dari siung Menoro. Mereka menoleh darimana suara itu datangnya, kemudian terkejut melihat tubuh sang buto yang besar dan kekar bagaikan pohon beringin yang dilihatnya di alun – alun dimuka paseban agung. Maharaja Sakti segera memegang hulu keris Buritkang yang tersisip dipinggangnya demikian pula Maharaja sultan turut memegang hulu keris Buritkang tersebut. Setelah terjamah tangan mereka dan semangat untuk bertempur,dengan lantang Maharaja Sakti berseru :” kami datang dari jauh , dari seberang lautan, terbang kesini untuk menantang seorang buto yang membuat keonaran terhadap kerajaan Majapahit.!”
 
Kata – kata ini menyengat di telinga Siung Menoro, melenyapkan akalnya yang sehat dan membangkitkan amarahnya yang luar biasa. Wajahnya bertambah hitam karena berangnya dan tiba – tiba dengan sekali loncat siung menoro sudah berada diahadapan keturunan dewata itu, menangkap pinggang mereka masing – masing lalu dilemparkannya ke angkasa. Keduanya terlempar jauh ke atas melambung bagaikan kapuk yang ditiup angin. Untuk seketika Maharaja ini tidak sadarkan diri di awang – awang, mereka melayang terus bagaikan layang – layang yang putus talinya. Sorak sorai anak buah buto ini menyadarkan kembali Maharaja Sakti dan Maharaja Sultan. Setelah menyadari apa yang telah terjadi terhadap diri masing – masing itu, kedua Maharaja itupun menggunakan ilmunya dan tiba – tiba terlihatlah oleh anak buah buto dua benda berat yang bagaikan panah lepas dari busurnya lebih cepat dari kilat menuju ke bawah tepat menimpa kepala siung Menoro. Dua tubuh yang jatuh ini menimbulkan angin yang kencang melemparkan kereta kenaikan kedua Maharaja itu dan juga melemparkan punggawa – punggawa yang mengikuti perjalanan ini.
 
Angin kencang ini melanda juga pohon – pohon kayu yang berada di tepi hutan sehingga menari seakan – akan dilanada angin puyuh. Anak buah sang buto sempat semuanya bertiarap sehingga tidak terlanda oleh angin kencang ini, namun debu – debu tanah yang berterbangan menyusupi mata – mata mereka sehingga segala sesuatu yang mulanya Nampak dengan jelas sekarang sudah tampak dengan tidak tentu wujudnya.
Akan tetapi sungguh menakjubkan Siung Menoro tidak jatuh dan tidak cedera tertimpa tubuh berat dari kedua Maharaja ini. dia tetap bertumpu pada kakinya yang bagaikan wajan tertanam kuat di tanah.Kedua Maharaja itu ditangkapnya lagi lalu dibantingkan ke tanah sehingga hampir masuk sampai ke perut bumi. Akan tetapi hiang Antaboga tidak membiarkan mereka terkubur hidup – hidup di dalam tanah. Dengan sekali tonjol kedua Maharaja ini timbul lagi tepat diantara dua kaki dari buto Siung Menoro. Dengan tangkas mereka menangkap masing – masing kaki buto ini dan dengan bantuan Hiang Antaboga, Siung menoro dapat terangkat dan kemudian terjerembab ke atas tanah. Maharaja Sakti secepat kilat mencabut keris Buritkang dari sabuknya dan pada saat siung menoro bangkit keris itupun tertancap didadanya. Siung Menoro mengerang sampai terdengar di ibu kota Kerajaan Majapahit, diamana pada waktu itu Maharaja Berma Wijaya sedang ada di sitinggil dihapad oleh Patih Gajah Mada dan para Menteri. Sang Raja, sang patih dan para menteri terkejut, juga seluruh rakyat. Mereka mendengar dari kejauhan raung yang tidak putus – putusnya yang semakin lama semakin melemah dan akhirnya tidak kedengaran sama sekali. patih Gajah Mada maklumlah sudah apa yang sedang terjadi diperbatasan kota dimana siung Menoro bersama dengan anak buahnya berada. Maharaja BermaWwijaya selama beberapa hari ini wajahnya murung saja, kini merasa bahwa ancaman terhadap dirinya oleh Siung Menoro sudah tidak perlu lagi ditakuti lagi, karena diapun maklum bahwa dengan makin melemah dan kemudian lenyap raung  yang terdengar tadi, maka berarti bahwa Siung Menoro telah dapat dikalahkan.
 
Demikian juga semua rakyat di ibukota beriang gembira, karena dengan kematian siung Menoro berarti tidak ada nyawa yang hilang dari kalangan rakyat, karena sudah disiapkan untuk bertempur melawan buto berserta anak buahnya.
 
Maharaja Berma Wijaya kini menepati janjinya, yakni memberikan petunjuk – petunjuk tentang ketatakramaan keraton dan mengemudikan roda pemerintahan kerajaan Majapahit untuk dipakai sebagai pedoman dalam melaksanakan pemerintahan di Kutai Kertanegara. Maharaja Indra Mulia tidak mendapatkan kesempatan untuk belajar langsung dari sang Raja ataupun Patih Gajah Mada, akan tetapi disuruh supaya mengetahuinya dari Maharaja Sultan saja, karena Martadipura tidak berada dibawah kekuasaan Kertanegara  maka Maharaja Indra Mulia tidak bersedia untuk belajar pada Maharaja Sultan. Diapun kembali terbang melintasi langit menuju kerajaannya.
 
Maka tinggalah Maharaja Sakti dan Maharaja Sultan di Keraton Majapahit untuk beberapa waktu lamanya. Setiap hari Maharaja Sakti bersama – sama Patih Gajah Mada menyaksikan bagaimana roda pemerintahan dilaksanakan olehnya sebagai pembantu utama dari Raja Majapahit, dan bagaimanana para menteri melaksanakan pekerjaannya menurut tugasnya masing – masing sebagai pembantu dari sang patih. Sedangkan Mahraja Sultan terlihat selalu bersama – sama dengan Maharaja Berma Wijaya untuk menyaksikan segala tatakra yang berlaku di kraton, Maharaja sultan banyak mendapatkan perlakuan – perlakuan yang berguna untuk dikembangkan di kraton kutai Kertanegara pada masa mendatang.
 
Bilamana waktu tidur sudah tiba maka seorang dayang membawa bedak datang terdengarlah bunyi meriam bersahut – sahutan untuk membangunkan penghuni kraton. Maharaja Berma Wijayapun menemui Maharaja Sultan untuk mengajaknya mandi ke kolam dengan pakaian dan keperluan mandinya dibawakan oleh dayang – dayang.  sesudah mereka selesai mandi, merekapun istiraat disuatu tempat peristirahatan di pinggir kolam , Ditanyakan juga oleh Maharaja Sultan beberapa  macam sembah yang ada urut – urutannya . Sang Raja Majapahit memberitahukan bahwa ada lima macam sembah, yakni pertama sembah kepada guru, kedua sembah kepada ayah, ketiga sembah kepada ibu, keempat sembah kepada raja dan kelima sembah kepada suami.
 
 
Sementara itu patih Gajah Mada memberikan beberapa macam pengetahuan kepada Maharaja sakti tentang tugas pekerjaan pemerintahan, bagaimana hubungan raja dengan rakyat dan hubungan raja dengan prajurit. dijelaskan tentang usaha – usaha kewaspadaan terhadap musuh – musuh yang hendak menghancurkan kerajaan dan terhadap mereka yang ingin menumbangkan kekuasaan raja. selanjutnya juga diuraikan tentang bentuk penghargaan yang dapat diberikan pada mereka yang berjasa terhadap raja dan kerajaan. tentang hukuman yang ditimpakan kepada mereka yang tidak mematuhi sabda raja dan peraturan kerajaan. Demikian juga diberikan beberpa petunjuk oleh patih Gajah Mada kepada Maharaja Sakti tentang cara berpakaian dan cara bersikap para menteri bilamana berada di Paseban Agung menghadap raja. Mengenai tugas punggawa harus memelihara ketertiban dan keamanan umum, selalu siap sedia dengan kudanya untuk dapat melaksanakan tugasnya dengan cepat dan cekatan dan selalu dalam keadaan siap untuk berperang bilaman musuh datang menyerang.
 
Selanjutnya Maharaja Sakti menanyakan juga sikap seorang bilamana menghadap raja. Maka atas pertanyaan ini patih Gajah Mada menjelaskan Bahwa bilamana seorang datang untuk menghadap raja maka sebelum dia samapai ke stinggil harus berjalan dengan jongkok, kemudian member hormat dengan menyembah, menundukkan kepalanya jangan melihat langsung ke mata raja dan membuka lebar  –  lebar  telinganya agar jangan salah menerima sabda raja.
 
Demikianlah untuk beberapa lamanya Maharaja Sakti dan Maharaja Sultan berada di Majapahit untuk belajar adat istiadat dan tatakarama yang berlaku di kalangan kraton Majaphit. Sesudah dirasakan cukup, maka kedua Maharaja turunan dari Aji Batara Agung  Dewa Sakti inipun meminta diri kepada Maharaja Berma Wijaya Beserta Patih Gajah Mada untuk kembali pulang ke Kutai Kertanegara. Maka sebagai perpisahan diadakan jamuan makan, dimana juga rakyat diundang untuk turut berpesta dengan menyaksikan permainan wayang orang dan wayang kulit di alun – alun semalam suntuk.
 
Pada saat untuk berangkat , maka Raja Majapahit memberikan sebuah daun pintu yang bernama galidigang untuk dipakai sebagai alat yang menerbangkan Maharaja Sulta dan Maharaja Sakti ke Kutai Kertanegara. Tampak wajah – wajah yang sedih didalam perpisahan ini. tidak terkecuali wajah para dayang mang melayani kedua Maharaja ini pada waktu tidur, pada waktu mandi dan makan mereka. Semuanya akan berlalu dan hanya kenangan yang melekat pada hati masing – masing Apa yang telah berlaku hanya seperti mimpi saja. Akan tetapi suatu mimpi yang indah dan nikmat. sesudah segala sesuatunya dipersiapkan untuk mengadakan perjalanan pulang ini, maka Maharaja Sultan dan Maharaja Saktipun duduk diatas Galidigang. Mereka memejamkan matanya bersemadi dan kemudian daun pintu itu terangkat dari tanah dan berputar – putar seakan- akan memberikan ucapan selamat tinggal kepada Raja Majapahit, Patih Gajah Mada, Para menteri, Para punggawa Permaisuri dan para Gundik Para selir dan dayang – dayang. Galidigang makin meninggi dan lambaian tangan serta saputangan dari bawah.
 
 
Setelah galidigang berada jauh diatas puncak pohon beringin yang berada di alun – alun, maka dengan tiba – tiba meluncurlah dia secepat kilat ke arah utara dengan membawa Maharaja Sultan dan Maharaja Sakti. Beberapa Lapisan langit telah dilalui oleh galidigang diantaranya Kayang yang gelap, latar diatas angin dan Marju Kentang. dengan kecepatan biasa Galidigang menukik ke bawah sehingga dapat terlihat oleh penduduk .Penduduk pun gaduh dan segera memberitahukan apa yang dilihat mereka itu kepada Maharaja Indrawangsa, Maharaja Dermawangsa dan Maharaja surawangsa. Ketiga bersaudaran maklum bahwa apa yang dilihat penduduk di udara itu tidaklah lain daripada Maharaja Sultan dan Maharaja sakti.
 
Galidigang menurun dan makin jelas bentuknya dapat dilihat oleh penduduk. Apabila dilihatnya yang duduk diatas daun pintu yang terbang itu adalah rajanya,maka merekapun bersorak sorai kegirangan sambil melambai – lambaikan tangannya. Setelah berputar – putar diudara maka tiba – tiba Galidigangpun menceburkan dirinya di sungai dekat Tanjung Riwana. Penduduk tepi sungai yang melihat kejadian ini segera mengambil sampannya masing – masing dan berkayuh sekuat tenaga menuju daun pintu yang sedang mengambang di Tanggung Riwana diman dengan tenang dan senyum dikulum duduk dengan tenang Maharaja sSakti dan Maharaja Sultan.  Setelah dekat Galidigang, talipun diulurkan yang disambut masing – masing oleh kedua Maharaja itu. Dengan berpegangan pada tali ini Galidigang ditarik sampai ketepi dimana ketiga bersaudara Maharaja Sultan sedang menanti. Setelah sampai tepi maka ramailah kelima bersaudara ini berpeluk – pelukan, kemudian Maharaja Sultan dan Maharaja Sakti didukung oleh rakyat dibawa ke rumahnya dengan iring – iringan yang meriah. Meriam – meriam dibunyikan bergegar – gegar menambah ramainya suasana menyambut kedatangan raja Kutai Kertanegara dari perjalanannya ke Majapahit yang letaknya jauh di seberang lautan.

D. Adham

 


Radio FM 100.6 MHz RPK Kukar
VideoIndex
  •  
No. Telepon Penting
  • Sekretariat Daerah (0541) 662088
  • Polres (0541) 661410
  • Operator PDAM (0541) 661002
  • RS Parikesit (0541) 666373
      (0541) 661118
  • RSU Samboja (0542) 460225
      (0542) 460226
  • Kantor PMK (0541) 661009
  • Telkom (0541) 661117
  • PLN (0541) 661365
  • Call Centre Gerbang
    Raja (0541) 6669000   
img img img