img
img
img
FLASHNEWS:

Karya Budaya Kutai

Pertemuan Maharaja Sultan Dari Kutai Dengan Maharaja Indra Mulia Dari Muara Kaman

Setelah upacara pengukuhan perjanjian selesai, maka langkah selanjutnya ialah penobatan Maharaja Sultan sebagai raja dari Kutai Kertanegara. Selama empat puluh hari empat puluh malam diadakan persiapan dengan penuh kesibukan, baik dikalangan keluarga baik dikalangan keluarga keturunan Dewata Mulia Raya, maupun kalangan penduduk. Masing – masing mengetahui tugasnya kaum lelaki bekerja diluar sedangkan kaum wanita bekerja di dalam rumah.
 
Gamelan dengan tidak henti – hentinya dimainkan, kaum lelaki menari diluar, sedangkan kaum wanita menari di dalam balairung. Bermacam – macam permainan diadakan, seperti misalnya adu ayam, adu gasing , Lomba perahu tarik tali dan adu logo. Adu layang – layang bergelas dan berhias memeriahkan suasana, sedangkan bagi anak – anaknya disediakan perlombaan naik batang pinang dimana di puncaknya digantung berbagai permainan yang dapat menggembirakan anak – anak itu.
 
Selama empat puluh hari empat puluh malam Maharaja Sultan pun diberi pakaian kebesaran dan dipayungi dengan payung kebesaran berwarna kuning yang dibawa oleh seorang Panakawan yang berpakaian baju miskat. Dengan iring – iringan orang – orang besar dari sebelas negeri. Maharaja Sultan mulai bergerak meninggalkan balairung menuju Panca Persada. Gong Gajah Perwata pun dipalu ditingkah oleh bunyi meriam si Gantar bumi dan Sapu Jagat. Tatkala Maharaja Sultan turun dari balairung, maka berbunyilah petir dengan dahsyatnya disertai kilat sambung menyambung. Bumipun berlenggang pada saat pada saat Maharaja Sultan berjalan meniti di atas leman menuju Balai Panca Persada. Setelah tiap balai maka dihamparkannlah tilam dan dibukakan kasur agung , saat dimana Maharaja sultan di dudukkan.
 
Maharaja sakti berdatang sembah dan kemudian dengan khidmat mengumumkan kepada bahwa Maharaja Sultan diiangkat menjadi  Raja dari Kutai Kertanegara dengan semufakakt saudara – saudaranya dan dengan persetujuan pemuka – pemuka dari sebelas negeri yang mengakui kekuasaan turunan Dewata Mulia raya ini.
 
Setelah penobatan selesai, maka pemuka – pemuka masyarakat yang berada di Panca Persada berdatang sembah kepada Maharaja Sultan, dimulai dengan mereka yang duduk dihadapan raja disusul dengan pemuka – pemuka masyarakat yang duduk disamping kiri kemudian mereka duduk disamping kanan. Setelah itu berbunyilah meriam si Gantar Bumi dan sapu Jagat sebanyak tujuh kali dengan didiringi sorak sorai rakyat yang berjejal – jejal memenuhi halaman balai Persada Panca.
 
Sesudah upacara penobatan selesai, iring – iringan Maharaja Sultan kembali ke balairung untuk menerima para pembesar, para menteri dan penggawa serta pemuka – pemuka masyarkat  dari sebelas negeri untuk memberikan selamat kepadanya. Mereka diberi makan dan minum sepuas – puasnya denga tiada henti – hentinya sampai akhirnya masing – masing mereka meninggalkan balairung dan kekenyangan.
Pada suatu ketika Maharaja Sultan sedang berunding dengan saudara – saudaranya yang menjadi menteri kerajaan untuk belajar adat Kerajaan Majapahit, karena dipandang dipakai selama ini masih belum sempurna. Didapatlah kata sepakat bahwa Maharaja Sultan akan berangkat ke Majapahit dengan didampingi oleh Maharaja Sakti sebagai kakak yang tertua dan banyak pengalaman.
 
Sedang mereka berunding itu terdengarlah suara gempar di sepanjang sungai karena melihat iring-irngan perahu yang tidak pernah dilihatnya selama ini. seorang penggawa datang dingan terengah-engah kebalairung langsung berdatang sembah kepada Maharaja Sultan : “patik membawa berita adanya suatu iring-iringan perahu yang megah dengan anak buah perahu yang gagah-gagah. sedangkan terlihat seorang yang tampan yang kelihatan memberi perintah-perintah.mungkin dia adalah pemimpinnya !”
setelah mendengar laporan ini, maka Maharaja Sultan pun memandang Maharaja Sakti. Maharaja Sakti pun maklum akan maksudnya dan segera menyuruh Maharaja Darmawangsa untuk ke tepian melihat dari dekat siapakah gerangan yang memasuki perairan Jaitan Layar itu dan apakah maksudnya datang berkunjung ke daerah Kutai ini.
 
Maharaja Darmawangsa dengan diiringi beberapa Panakawan turun dari balairung ke tepian. dengan menaiki sebuah sampan Maharaja Darmawangsa berkayuh menuju iringan perahu asing itu,sedangkan di tepian telah disiapkan laskar untuk bertindak bilamana awak-awak perahu asing mempunyai maksud jahat. setelah dekat dengan iring-iringan perahu itu,maka Maharaja Darmawangsa berseru : “hai,perahu dari mana dan apa maksudmu datang ke sini!”
 
Terdengarlah suara menyahut dari salah satu perahu asing itu :”perahu dari Muara Kaman datang beranjang sana !”     Maharaja Darmawangsa menyahut :”Apakah mempunyai maksud baik, ataukah mengandung maksud jahat datang kami kemari “ .Terdengar jawaban dari perahu :”Kami merupakan rombongan muhibbah “.
 
“apa tandanya bahwa rombongan ini mempunyai maksud baik?” Tanya Maharaja Darmawangsa. maka terlihatlah sebuah bendera putih dinaikkan di salah satu tiang bendera dari sebuah perahu yang terbesar ukurannya dari perahu-perahu lainnya. melihat bendera putih itu,Maharaja Darmawangsa pun  menyuruh Panakawannya mengayuh sampannya mendekati perahu itu. Diapun ditolong anak buah perahu itu untuk naik ke atas. sampai diatas perahu tangan Maharaja Darmawangsa di jabat tangan oleh seseorang yang berpakaian kebesaran sambil berkata :”Kami dari Muara Kaman , kami adalah Maharaja Indra Mulia dari Kerajaan Martadipura, datang ke Kutai Kertanegara untuk mengikat persahabatan “.
 
“Dengan segala senang hati kami menerima Maharaja Indra Mulia,”sahut Maharaja Darmawangsa. sebelum Maharaja turun ke darat dengan didampingi oleh saya, maka saya suruh  Panakawan dulu untuk memberitahukan Maharaja Sultan tentang maksud kedatangan rombongan ini !”
 
Setelah Maharaja Sultan mendengar maksud kedatangan rombongan dari Muara Kaman itu, maka Maharaja Sakti pun disuruh mempersiapkan penyambutan dengan segala kebesaran. Maharaja Indra mulia dengan para pembesarnya serta diiringi oleh Maharaja Darmawangsa turunlah ke darat ,dimana sudah menunggu  para Panakawan dan penduduk Jaitan Layar yang mengelu – elukan kedatangan rombongan itu.
Di Balairung telah menanti Maharaja Sultan dengan didampingi oleh para menteri Kerajaan, Yakni Maharaja Sakti,Maharaja Indrawangsa dan Maharaja Surawangsa.
 
Setibanya di balairung Maharaja Indra Mulia dari Muara Kaman itu disongsong Oleh Menteri Kerajaan lalu didudukkan di samping Maharaja Sultan. Maharaja Sakti menyorongkan puan yang disambut oleh Maharaja Indra mulia dengan takzimnya serta mengambil sirih yang ada dalam puan itu dan mengunyahnya. selanjutnya tamu dari Muara Kaman ini dijamu makan minum sepuas – puasnya.
 
Sambil makan minum itu Maharaja Indra Mulia menceritakan bahwa dia adalah turunan yang ke XX dari Maharaja Mulawarman.
 
“Ingatkah kakanda siapa saja yang memerintah sejak Maharaja Mulawarman itu sampai kakanda sekarang? Tanya Maharaja Sultan.
 
Maharaja Indra Muliapun dengan lancer menyebutkan nama – nama Maharaja yang memerintah di Muara Kaman. Yaitu sesudah Mulawarman kemudian secara berturut – turut menyusul seri warman, Maha Wijaya Warman, Gaja Yana Warman, Wijaya tangga Warman, Nala Singa Warman, Indra Warman Dewa, Sanga Warman dewa, Gadingga Warman Dewa, Candra Warman, Perahu Kula Tunggal Dewa, Guna Prana Tungga.
Sesudah Guna Prana Tungga maka Kerajaan Martadipura diperintah bersama oleh Wijaya Warman dengan Putri Indra Perwati.
 
“Dan terakhir kamilah sekarang yang memegang kekuasaan” demikian Maharaja Indra Mulia mengakhiri penjelasannya dihadapan Maharaja Sultan dan para menteri kerajaannya.
 
Sesudah jamuan makan selesai Maharaja Sulatan mempersilahkan tamunya untuk duduk – duduk kembali ke balairung bersama dengan para Menterinya. Disekitar balairung penduduk Jaitan Layar masih berjejal – jejal untuk melihat Maharaja Indra Mulia dari Muara Kaman itu. Sebagian penduduk juga masih berada di tepian mengagumi armada perahu dari muara Kaman dengan bermacam tingkah dari awak perahunya.
Dayang – dayang yang cantik menyegarkan suasana di balairung, terutama para tamu yang baru saja datang dari perjalanan jauh. Puan diedarkan dan ramailah mulut – mulut yang berada di balairung komat kamit mengunyah sirih.
 
Kemudian Maharaja Sakti berkata kepada Maharaja Indra Mulia :” Adinda Indra Mulia yang terhormat, kakanda pernah mendengar cerita tentang peperangan yang terjadi antara Pangeran Cina yang datang ke kawasan Martadipura. Kami ingin mendengar cerita itu langsung dari adinda. Oleh karenanya dapatkah adinda meriwayatkan kembali kepada kami. Mungkin banyak faedahnya bagi kami dalam menghadapi serangan – serangan terhadap Kutai Kertanegara.
 
Sahut Indra Mulia :” Memang ada pertempuran anatara pasukan Pangeran Cina dengan lasykar dari Martadipura, Kejadian ini di Zaman Maharaja Nala Indra”.
 
“Ingin kami mendengarkan riwayatnya. Kiranya kakanda bersedia menceritakannya sebagaimana diminta oleh saudara kami Maharaja Sakti,” demikian Maharaja Surawangsa.
 
Atas desakan ini maka berceritalah Maharaja Indra Mulia tentang sebab musabab terjadi pertempuran itu.
Bandar Muara Kaman pada waktu zamannya Maharaja Nala Indra Dewa sangat ramainya. Hail – hasil bumi dan hasil – hasil hutan dari pehuluan di bawa ke bandar Muara Kaman, karena di Bandar ini sudah menunggu perahu – perahu dari daearah nusantara lainnya dan jung – jung dari Cina.
 
Setiap hasil bumi dan hutan yang dibeli dibayar dengan barang – barang yang dibawa oleh pedagang – pedagang Cina itu antara lain dengan kain sutera halus, barang – barang porselen  dengan tajau berukiran naga dan sebagainya.
 
Pedagang – pedagang cina ini selain memberitahukan akan kekayaan alam yang tersimpan dalam kawasan Martadipura, juga memberitahukan kepada Rajanya tentang kecantikan seorang Puteri dari Maharaja Nala Indra Dewa tidak ada bandingannya dengan Puteri – puteri di daratan Cina.
 
Salah seorang Pangeran Cina tertarik mendengar ceritera ini dan segera mempersiapkan perbekalan dan barang – barang perhiasan dari emas untuk meminang puteri yang cantik dari Muara Kaman.
Setelah lama berlayar mengarungi Lautan dan menempuh gelombang yang besar, maka sampailah iringan jung Pangeran Cina itu. yang merupakan sauatu armada karena dilengkapi dengan meriam – meriam dan pimpinan perang.
 
Maharaja Nala Indra Dewa menerima dengan segala kebesaran Pangeran Cina itu. Pangeran ini pada suatu kesempatan yang baik mengutarakan maksudnya datang ke Muara Kaman itu yaitu melebarkan keturunannya dengan ingin mempersunting Puteri dari Nala Indra Dewa yang bernama Aji Bidara Putih. Maharaja pun berunding dengan sanak keluarganya serta pembesar Martadipura. Aji Bidara putih juga diberitahukan tentang pinangan Pangeran cina ini. Puteri ini sempat mengintip ke balai dan dia melihat betapa gagahnya pangeran itu. Kulitnya kuning langsat, matanya sipit dan kumis menghiasi bibirnya, dimana kedua ujung kumisnya itu lentur  ke bawah bagaikan ranting kayu tergantung.
 
Aji Bidara Putih berdebar – debar hatinya dan penuh peengharapan bahwa pinangan pangeran Cina itu dapat diterima ayahanndanya.
 
Setelah berunding dengan semasak – masaknya, maka lamaran Pangeran itu diterima baik. Mendengar lamaran itu diterima, maka dari jung – jung terdengarlah bergelagar suara meriam yang ditembakkan keatas menunjukkan kegembiraan hati Pangeran Cina itu. Bagi Aji Bidara Putih peluru – peluru meriam itu seakan peluru asmara yang merobek hatinya, sehingga dia tidak sabar lagi menunggu perkawinan dilangsungkan.
 
Pangeran cina itu kemudian menurunkan sampan dari jung yang penuh memuat barang – barang perhiasan dari emas, antara lain terdapat sebuah kura – kura emas, barang – barang mana merupakan tanda ikatan pertunangannya dengan Aji Bidara Putih. Pangeran Cina beserta rombongannya diterima dibalairung dihadapan Mahara Nala Indra Dewa dan dibelakangnya duduk berdebar – debar dan tersipu – sipu Aji Bidara Putih. Sesudah upacara sorong tanda diterima, maka diadakan jamuan makan.
 
Dalam jamuan ini Pangeran Cina beserta rombongannya makan menurut adat kebiasannya yaitu bukan dengan menyuap pakai tangan akan tetapi membawa mangkok itu ke mulut. Cara makan ini mengejutkan Maharaja Nala Indra Dewa dan Aji Bidara Putih serta seluruh pembesar – pembesar yang ada di Balairung.  Aji Bidara Putih segera meninggalkan balairung karena malunya. Pangeran Cina merasa terhina segera meninggalkan jamuan makan dengan anak buahnya dan bergegas menuju kekapalnya yang berlabuh di perairan Muara Kaman.
 
Melihat gelagat ini Maharaja Nala Indra Dewa memerintahkan prajurit dan penduduk Muara Kaman untuk siap siaga menghadapi serangan dari Pangeran Cina itu. Dan benarlah dugaan dari Maharaja karena tidak berapa lama terdengarlah letusan – letusan senapan dan dentuman – dentuman meriam yang ditujukan ke daratan. Prajurit – prajurit Martadipura pun membalas tembakan , maka terjadilah saling tembak menembak dengan hebatnya. Akan tetapi nampaknya kekuatan berada dipihak pasukan Pangeran cina. Mereka menyerbu ke darat sehingga pasukan  Maharaja mundur kearah danau di belakang Muara Kaman. Pasukan Pangeran cina mengejar terus dengan puluhan sampannya. Akan tetapi dengan tiba – tiba    muncullah berjuta – juta ekor lipan dari dalam air danau menaiki sampan – sampan Pasukan Cina itu dan menggigit setiap orang Cina menyuntikkan bisanya ke setiap tubuh mereka sehingga tak berdaya dan akhirnya tidak satupun dari orang – orang Cina itu yang hidup termasuk Pangeran Cina itu sendiri. “Danau itu sekarang dinamakan Danau Lipan” demikian kata Maharaja Indra Mulia mengakhiri kisahnya.
 
Maharaja Sultan dan Maharaja Sakti serta Menteri Kerajaan Lainnya terdiam mendengar ceritera itu. Lama mereka termenung sehingga suasana sepi menghinggapi balairung, kecuali desiran  angin yang terdengar diluar.
 
Apakah yang adinda Pikirkan ? “ Tanya Maharaja Indra Mulia kepada Maharaja Sultan.
“Ya karena salah paham mengenai adat – istiadat masing – masing maka terjadilah peperangan yang memakan korban dan harta benda. Inilah yang kami renungkan! Kutai Kertanegara merupakan suatu kerajaan yang baru tumbuh oleh Dewata dipercayakan kepada Aji BAtara Agung Dewa Sakti untuk membangunnya dan yang kami teruskan sampai dewasa kepemimpinannya itu. Wilayah kerajaan makin bertambah luas, sedangkan adat istiadat yang mengatur tingkah laku kami tidak pernah ada. Yang kami maksud adalah adat yang baik tata kramanya dan ini hanya dapat diteladani dari kerajaan Majapahit. Justru karena itu kami telah berunding untuk meminta adat di Majapahit dan adinda beserta kakanda Maharaja
Sakti sebenarnya sedang siap – siap untuk berangkat ke Majapahit.
 
Setelah mendengar maksud dari Maharaja Sultan untuk ke Majapahit itu, maka dengan gembira Maharaj Indra berkata kepada Maharaja Sakti:” kalau kakanda mempunyai rencana untuk ke Majapahit, maka baiklah kita bersama – sama berangkat. Tujuan adindapun untuk kesana juga sesudah mengunjungi Kutai Kertanegara.
 
Maka bersepakatlah mereka bertiga untuk bersama – sama berangkat ke Kerajaan Majapahit. Perbekalanpun dipersiapkan seperlunya. Pada hari yang ditentukan banyak penduduk Jaitan Layar berkumpul disekitar balairung untuk memberangkatkan Maharaja Sultan dan Maharaja Sakti serta diiringi  oleh Maharaja Indra.
 
Sebuah ayuna besar disiapkan di balairung. Ketiga turunan dewata itu bersama – sama naik keatas ayunan ini. Mereka masing – masing menahan nafasnya, memjamkan matanya dan kelihatan mulutnya komat – kamit membaca mantera – mantera. Setelah mereka membaca mantera, maka terdengarlah deru angin yang memasuki ruangan balairung menghembuskan kuat kearah ayunan itu. Ketiga turunan dewata tampak terbang keluar balairung menuju cakrawala disaksikan oleh penduduk. Mereka melayang – layang seakan – akan layangan yang diulur talinya, semakin lama semakin jauh. kemudian dimata penduduk kyang sedang menyaksikan keajaiban ini Maharaja Sultan, Maharaja Sakti dan Maharaja Indra Mulia kelihatan sebagai titik di langit biru yang disirami panas terik matahari, dan akhirnya hilanglah dari mata penduduk.
 
Ketiga turunan dewata itu, terbang ke Majapahit dengan melewati beberapa lapisan langit. Langit pertama yang mereka lewati ialah marju Kentang,kemudian mereka menuju lapisan langit yang lain yakni latar di atas angin. perjalan mereka teruskan dengan melewati lapisan langit kayangan yang gelap.
Di Kayangan yang gelap ini keadaan sangat gelap sekali sehingga menyulitkan bagi Maharaj Indra mulia untuk bisa melintasi lapisan langit ini. Dia tidak dapat melihat sama sekali seakan – akan buta matanya.
Karena merasa terpisah jauh dengan Maharaja Sultan dan Maharaja Sakti, maka diapun tidak berani meneruskan perjalannya dan terpaksa kembali.
 
Sedangkan kedua turuna Aji Batara Agung Dewa Sakti dari Kutai Kertanegara didalam perjalanan melintasi kayangan yang gelap itu tidak mendapatkan rintangan apa – apa. Mereka terus terbang menembus berbagai lapisan langit dan bilamana mereka melintasi Joan Tujuh lapis, sampailah akhirnya mereka ke Suralaya,tempat para dewa – dewa . Dari suralaya ini mereka tidak dapat melihat lagi bumi. Mereka melihat keindahan yang tak dapat digambarkan di Suralaya ini dengan warna – warni yang tidak terdapat di bumi. Mereka terlena melihat keindahan ini sehingga untuk beberapa saat mereka lupa segala – galanya. juga lupa bahwa tujuan perjalanan mereka adalah Majapahit untuk meminta adat tatakaramanya. Bilamana mereka sadar kembali teringatlah mereka kepada Maharaja Indra Mulia dari kerajaan Martadipura yang mengikuti mereka dalam perjalanan ini. Mereka melihat kesana kemari mereka tatap celah – celah warna – warni itu untuk menemukan kawan seperjalanan itu namun tiada bersua. Keduanyapun berunding apakah akan meneruskan perjalanan ataukah kembali untuk mencari Maharaja Indra yang mungkin ketinggalan disalah satu lapisan langit atau kembali langsung ke bumi. Akhirnya mereka dapat kesepakatan untuk mencari Maharaja indra Mulia sampai dapat, karena merasa bertanggung jawab atas keselamatan raja Martadipura itu.
 
Kedua bersaudara dari Kutai Kertanegara inipun kembali lagi memasuki beberapa lapisan langit mencari Maharaja Indra Mulia. Beberapa lapisan langit mereka masuki lagi, yaitu di Pali Baginjau, Pusar tulung, Angin Bercampuh, Kayangan yang gelap, latas diatas Angin dan Marju Kentang. AKan tetapi Maharaja Indra Mulia tidak ditemukan. kedua bersaudara ini pun melayang lagi mencari Indra Mulia ke gambar – gambar. Karena lapisan – lapisan ini tidak diketemukan merekpun terbang ke Pemangkin Hari dan Kemega Malang. Disinipun Indra Mulia tidak diketemukan. Merekpunmelanjutkan perjalannaya ke Pahat Dalam dimana akhirnya mereka melihat Maharaja indra sedang mandi.
               
Indra Mulia menceritakan kepada kedua bersaudara itu  tentang keadaannya pada waktu lapisan Kayangan gelap. karena tidak bisa melihat apa – apa lagi, diapun kembali dan dalam  perjalanan kembali ini dilihatnya air jernih di Pahat Dalam, sehingga dia singgah untuk mandi – mandi. Kedua bersaudara dari Kutai Kertanegara itupun turut mandi juga, dan sesudah ketiganya merasa segar bugar merekapun kembali meneruskan perjalannya ke Majapahit dengan ,melalui lapisan – lapisan tadi, dimana Maharaja Indra Mulia diapit di tengah – tengah Maharaja Sultan dan Maharaja Sakti.  

D. Adham

 


Radio FM 100.6 MHz RPK Kukar
VideoIndex
  •  
No. Telepon Penting
  • Sekretariat Daerah (0541) 662088
  • Polres (0541) 661410
  • Operator PDAM (0541) 661002
  • RS Parikesit (0541) 666373
      (0541) 661118
  • RSU Samboja (0542) 460225
      (0542) 460226
  • Kantor PMK (0541) 661009
  • Telkom (0541) 661117
  • PLN (0541) 661365
  • Call Centre Gerbang
    Raja (0541) 6669000   
img img img